Sunday, April 30, 2017

Tugas 03 Pertekom : Peran Audience Dalam Mempengaruhi Tayangan Televisi

PERAN  AUDIENCE DALAM MEMPENGARUHI TAYANGAN TELEVISI
Televisi merupakan salah satu media yang sudah menjadi kebutuhan masyarakat sebagai media penyaji informasi, hiburan, bisnis, pendidikan termasuk mempengaruhi pola dan gaya hidup manusia (Suhandang, 2005: 89). Selain itu tidak hanya sekedar menyajikan saja, acara televisi juga membutuhkan audience yang banyak untuk menyaksikan acara yang mereka mereka sajikan, karena kesuksesan sebuah acara di televisi juga tergantung pada audiencenya, sebagai audience kita harus cermat dalam menentukan acara apa yang layak untuk ditonton agar apa yang kita lihat  dan kita dengar dapat memberi dampak positif, sebagai penentu kesuksesan suatu acara audience dapat mempengaruhi agar tayangan tersebut dapat belanjut ataupun juga terhenti, dengan cara membuat laporan ke KPI (Komisi Penyiaran Indonesia), mengganti tayangan yang lain, dan tidak membahasnya secara terus menerus di media sosial.
Membuat laporan ke KPI merupakan salah satu cara audience untuk mempengaruhi tayangan televisi karena dengan adanya laporan dari masyarakat mengenai suatu tayang yang kurang baik, terlebih lagi acara tersebut mengandung unsur-unsur pornografi, asusila, kekerasan, menghina ataupun menyebarkan informasi yang tidak benar, maka kita sebagai audience/penonton tayangan tersebut dapat melaporkannya ke KPI agar acara tersebut ditindak lanjuti supaya tidak melakukan kesalahan lagi dalam menayangkan suatu acara, seharusnya acara yang ditayangkan itu mendidik, memberi informasi, menghibur, dan mempengaruhi audiencenya dengan hal-hal yang baik, namun masih ada dibeberpa televisi menayangkan  acara yang tidak memberi edukasi, sepeti halnya acara YKS, Empat Mata, Dunia Lain dan beberapa acara lainya sehingga pihak dari KPI memberikan sanksi, baik berupa teguran ataupun pemberhentian sementara, karena KPI adalah penentu layak atau tidaknya sebuah acara.
Jika audience tidak menyukai salah satu tayangan televisi maka ia dapat mengganti ke chanel lain yang memberi informasi dan lebih mendidik, akan tetapi secara pribadi kita tidak dapat langsung mempengaruhi orang lain untuk tidak menonton acara tersebut, bisa jadi ia menganggap acaranya mendidik, akan tetapi bagi orang lain acara itu tidak mendidik. Maka dengan tidak menontonnya dan tidak mengikuti perkembangannya secara otomatis acara tersebut telah berkurang peminatnya, sehingga apabila kurang peminat acaranyapun tidak akan bertahan lama,  karena kesuksesan suatu acara itu dilihat dari ratingnya semakin tinggi rating suatu acara, maka semakin lama pula acara tersebut masih tetap  bertahan.
Trending topic adalah permasalah yang diperbincangkan oleh banyak orang  di media sosial, dimana semua orang mengikutinya dengan menggunakan hashtag yang telah ditentukan, biasanya ini dilakukan untuk mempromosikan suatu acara televisi dengan iming-iming hadiah, bila banyak orang yang mengikutinya maka ia akan menjadi trending topic sehingga ialah yang selalu diperbincangkan di media sosial, karena salah satu ciri dari kesuksesan sebuah tayangan televisi itu bisa dilihat dari media sosial, apakah ia menjadi trending topic apakah tidak, semakin ia menjadi pembahasan yang berkelanjutan maka acara tersebut akan terus populer dikalangan masyarakat, maka dari itu dengan tidak menjadikannya sebagai trending topic di media sosial maka acara tersebut tidak akan menjadi perbincangan yang terus berkelanjutan dikalangan masyarakat.
Maka dapat disimpulkan bahwa audience adalah penentu kesuksesan suatu acara, karena semakin banyak yang menyaksikan acara tersebut maka dapat dikatakan acara yang sukses, yang telah menarik minat dan perhatian banyak orang, meskipun acara tersebut kurang mendidik bagi penontonnya, karena jika tidak ada audience yang menontonnya acara tersebutpun tidak akan bertahan lama di industri pertelevisian, maka dari itu audience dapat dikatakan sebagai penentu kesuksesan suatu acara di televisi.

Kelompok 2 Ilmu Komunikasi :
Gita (2019015)
Novita Dwi Nanda Pratiwi (2018515)
Tommy Aprilian Rulia (2018615)
Santy Berlianty (2018815)


Friday, April 14, 2017

Tugas 02 Pertekom : Pengaruh Penggunaan Smartphone Terhadap Kehidupan Sehari-hari

PENGARUH PENGGUNAAN SMARTPHONE TERHADAP KEHIDUPAN SEHARI-HARI




Kelompok 2 ilmu komunikasi  :
Tomy Aprilian Rulia
Gita
Santy Berlianty
Novita Dwi Nanda Pratiwi

SEKOLAH TINGGI ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK PAHLAWAN 12 SUNGAILIAT-BANGKA
TAHUN AKADEMIK 2016 – 2017



Perkembangan teknologi komunikasi sangatlah cepat, sebagai akibat dari arus globalisasi.  Salah satu perangkat teknologi komunikasi yang mengalami perkembangan yang cepat adalah telepon seluler / handphone. Fungsi utama dari handphone adalah sebagai alat komunikasi melalui suara dan pesan singkat (SMS), namun kini ia telah berkembang menjadi smartphone yaitu “telepon genggam /tangan yang pintar”, ia merupakan sebuah alat komunikasi elektronik   yang mempunyai kemampuan dasar yang sama dengan telepon konvensional saluran tetap (telepon kabel), namun kini sekarang ia bisa menangkap siaran radio, televisi, dan juga dilengkapi dengan fungsi audio, kamera, video, game serta layanan internet, bahkan memiliki fungsi yang hampir sama dengan perangkat komputer. Smartphone juga bisa dibawa ke mana-mana tanpa perlu disambungkan dengan jaringan telepon menggunakan kabel, sehingga kita dapat menggunakannya secara bebas disembarang tempat selama masih ada jaringan sinyal untuk smartphone yang kita gunakan.
Saat ini, peranan smartphone sudah menjadi sebuah kebutuhan primer sehari-hari. Semua orang sudah bisa dibilang tidak dapat lepas dari smartphone, dikarenakan hampir semua orang telah memilikinya, dari yang kaya hingga yang miskin, dari anak-anak hingga orang dewasa. Oleh karena itu, tentunya smartphone ini memliki pengaruh terhadap kehidupan manusia yang menggunakannya, meskipun perubahan teknologi komunikasi membawa dampak positif, akan tetapi kebanyakan dampak negatif yang didapatkan oleh para pengguna smartphone yang tidak bisa memanfaatkan kecanggihan teknologi. Perkembangan teknologi ini bisa berdampak pada kultur, perilaku, dan dampak kesehatan bagi penggunanya.
Dampak Kultural, yang ditimbulkan smartphone tidak hanya sebagai teknologi komunikasi, namun juga sebagai hal yang mencerminkan ikatan emosional dan budaya, melambangkan status sosial manusia sehingga selalu melihat ponsel sebagai tolak ukuran dan berlomba untuk selalu mendapatkan serta mengganti smartphone dengan tipe yang terbaru, padahal mereka sudah memiliki satu smartphone Android yang bagus dan berkualitas. Mereka menganggap memiliki satu Android saja tidak cukup untuk memenuhi kepuasan bahkan ada yang hanya sekedar mengikuti tren saja, agar dianggap mengikuti perkembangan zaman.
Dampak Perilaku adalah salah satu dari dampak negatif yang ditimbulkan smartphone, dengan adanya smartphone masyarakat kini lebih cenderung menjadi masyarakat yang malas karena hanya dengan ponsel dapat melakukan berbagai aktivitas komunikasi sehingga proses interaksi secara langsung atau tatap muka dengan orang lain jarang dilakukan, dan juga menurunnya kepedulian terhadap orang-orang yang ada disekitarnya. Hal ini menimbulkan dampak buruk dalam berinteraksi secara langsung juga dapat merusak psikologis seseorang tersebut, beriringnya waktu seseorang akan sulit menjalin komunikasi tatap muka dan membangun relasi dengan orang-orang disekitarnya. Apabila hal tersebut tidak segera dicegah akan menimbulkan dampak yang sangat buruk bagi kehidupan sosial, di mana manusia lama kelamaan akan sangat individualis dan tidak akanada lagi interaksi ataupun sosialisasi yang dilakukan di dunia nyata, karena secara keinginan manusia lebih senang dengan sesuatu hal yang instan.
Dampak Kesehatan, menurut penelitian yang dilakukan oleh Badre, tentang dampak negatif penggunaan smartphone bagi kesehatan tertuju pola tidur seseorang. Badre menemukan bahwa ketika seorang anak menggunakan telephone dan GSM secara berlebihan akan mengakibatkan kesulitan hidup pada malam hari, tentunya hal ini akan berdampak pada tingkat kelelahan dan stres, selain itu dampak buruk penggunaan ponsel adanya radiasi sinyal RF. Radiasi ini bisa meningkatkan potensi terkena kanker terutama pada anak-anak.
Dari paparan diatas dapat kami simpulkan bahwa, sebuah teknologi akan dapat membantu dalam kehidupan manusia apabila digunakan dengan sesuai fungsi dan kapasitasnya tersendiri, karena sebuah teknologi baik itu handphone ataupun jenis gadget yang lain sangat penting peranannya dalam kehidupan. Tidak ada yang salah dengan kecanggihan teknologi, yang menjadikan alat tersebut terasa bersifat negatif tidak lain karena cara pemakaian dari si pemilik itu sendiri.Selain itu karena seringnya penggunaan dari teknologi dapat berdampak buruk bagi individu yang memakainya.
Saran
Bagi orang tua
Hendaknya menjadi orangtua yang tidak gaptek dan lebih pintar dari anak kerena dengan demikan kita mampu mengawasi dan mengetahui apa saja yang telah dilakukan anak dengan gadget handphone tersendiri. Kemudian selalu mengawasi serta membatasi pelajar dalam penggunaan handphone itu sendiri.
Bagi para pelajar
            Para pelajar hendaknya dapat mengurangi kehidupannya dengan handphone supaya dapat meningkatkan kualitas belajarnya, berkonsentrasi serta bersosialisasi dengan baik.
Bagi masyarakat umum

Terhadap teknologi yang semakin maju hendaknya kita menjadi pengguna yang pintar dan tidak menjadi pengguna yang dikendalikan oleh teknologi canggih.


Wednesday, March 22, 2017

Proses Pembuatan Keputusan


PROSES PEMBUATAN KEPUTUSAN





DISUSUN OLEH :
NAMA        : SANTY BERLIANTY
NIM            : 2018815

SEKOLAH TINGGI ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK PAHLAWAN-12
SUNGAILIAT-BANGKA
PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI
SUNGAILIAT
2016


KATA PENGANTAR
Dengan Tuhan yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia serta taufik dan hidayah-nya saya  dapat menyelesaikan makalah  yang berjudul PROSES PEMBUATAN KEPUTUSAN dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya.

Dan harapan saya semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.

            Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman saya. Saya yakin masih banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu saya sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca semua demi kesempurnaan makalah ini.

                                                                                       Sungailiat-Bangka,   november 2016


                                                                                                 Penyusun









BAB I
                                                              PENDAHULUAN
                                                                             
A.    Latar belakang
Pembuatan keputusan merupakan salah satu unsure yang sangat esensial dalam organisasi dan managemen. Pembuatan keputusan bukan hanya fungsi pimpinan, tapi juga suatu proses partisipasi seluruh anggota untuk meningkatkan fungsi-fungsi managemen. Bagi pimpinan pembuatan keputusan itu merupakan salah satu fungsi yang tidak dapat dihindari untuk tidak melakukannya. Sebab tanpa pembuatan keputusan fungsi kepemimpinan tidak dapat dilaksanakan dan fungsi mananagemen tidak dapat berjalan dengan baik untuk mewujudkan tujuan organisasi.
Pembuatan keputusan adalah bagian kunci kegiatan manager. Kegiatan ini memainkan peranan yang sangat penting, setiap putusan harus diikuti dengan pelaksanaan, dan orang yang membuat keputusan itulah yang pertama-tama bertanggung jawab. Meski demikian setiap keputusan hendaknya diusahakan agar pelaksanaannya jangan sampai menggunakan kekerasan, (fisik) kalau tidak terpaksa sama sekali.
Didalam setiap organisasi, baik organisasi besar maupun kecil, dapat saja terjadi perubahan-perubahan kondisi, pergeseran personalia, timbul pertentangan-pertentangan, terjadi kesalahan yang perlu dibetulkan, dan muncul hal-hal yang tidak terduga sama sekali sebelumnya. Menghadapi pekembangan atau masalah semacam itu memerlukan pengambilan keputusan yang cepat dan tepat. Disamping itu keputusan, kputusan-keputusan harus diambil dengan tepatag  agar organisasi dapat berjalan dengan lancer. Pimpinan harus cekatan dalam mengambil keputusan mengenai apa yang harus dilakukan, harus mengetahui mengapa itu dilakukan, kapan, dimana, bagaimana, dan siapa yang harus melaksanakannya.
B.     Rumusan masalah
1.      Apa arti dari kata proses, pembuatan dan kata keputusan ?
2.      Apa pengertian dari  pembuatan keputusan ?
3.      Bagaimana proses pembuatan keputusan ?
4.      Ada berapa tipe-tipe keputusan ?
5.      Ada berapa teknik dalam pembuatan keputusan ?
C.     Tujuan penulisan
Untuk mengetahui apa arti dari kata proses, pembuatan, dan kata keputusan, Untuk mengetahui pengertian proses pembuatan keputusan, Untuk mengetahui cara dalam proses pembuatan keputusan, Untuk mengetahui ada berapa tipe-tipe dari keputusan, dan untuk mengetahui beberapa teknik dalam pembuatan keputusan.



















BAB II
PEMBAHASAN
A.    ARTI KATA PROSES, PEMBUATAN DAN KEPUTUSAN
Proses adalah urutan pelaksanaan atau kejadian yang terjadi secara alami atau didesain, mungkin menggunakan waktu, ruang, keahlian atau sumber daya lainnya, yang menghasilkan suatu hasil. Suatu proses mungkin dikenali oleh perubahan yang diciptakan terhadap sifat-sifat dari satu atau lebih objek di bawah pengaruhnya.
Proses adalah urutan pelaksanaan atau kejadian yang terjadi secara alami atau didesain, mungkin menggunakan waktu ruang,keahlian atau sumber daya lainnya, yang menghasilkan suatu hasil. Suatu proses mungkin dikenali oleh perubahan yang diciptakan terhadap sifat-sifat  dari satu atau lebih objek  di bawah pengaruhnya.
Pembuatan menurut kamus besar Bahasa Indonesia  adalah pembuatan/pem·bu·at·an/ n proses, cara, perbuatan,  buat1/bu·at/   kerjakan; lakukan.
Keputusan adalah suatu reaksi terhadap beberapa solusi alternatif yang dilakukan secara sadar dengan cara menganalisa kemungkinan - kemungkinan dari alternatif tersebut bersama konsekuensinya.Setiapkeputusan akan membuat pilihan terakhir, dapat berupa tindakan atau opini.
Keputusan adalah hasil pemecahan masalah yang dihadapinya dengan tegas. Suatu keputusan merupakan jawaban yang pasti terhadap suatu pertanyaan. Keputusan harus dapat menjawab pertanyaan tentang apa yang dibicarakan dalam hubungannya dengan perencanaan. Keputusan dapat pula berupa tindakan terhadap pelaksanaan yang sangat menyimpang dari rencana semula. (R.C. Davis,1894-1962).
Keputusan dapat berarti pula sebagai hukum situasi, ketika semua fakta dari situasi itu dapat diperolehnya dan semua yang terlibat, baik pengawas maupun pelaksanaan mau menaati hukumnya atau ketentuannya, maka tidak sama dengan menaatiperintah. Wewenang tinggal dijalankan, tetapi itu merupakan wewenang dari hukum situasi. (Mary Parker Follett, 1868-1933).



B.     PENGERTIAN PEMBUATAN KEPUTUSAN
Pembuatan keputusan adalah suatu proses yang bersifat kontinu bagi manajer dan merupakan tantangan yang harus dihadapi.
Terry, George R. (2000) mengemukakan bahwa pengambilan keputusan adalah pemilihan alternative perilaku (kelakuan) tertentu dari dua atau lebih alternative yang ada.
Siagian, Sondang P.(2000) memaparkan bahwa pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan yang sistematis terhadap hakikat alternative dan dihadapi dan mengambil tindakan yang menurut perhitungan merupakan tindakan yang paling tepat.
Simon, Herbert A. (1916-2001) mengemukakan bahwa ada tiga proses dalam pengambilan keputusan adalah :
1.      Intelegence activity yaitu proses penelitian situasi dan kondisi dengan wawasan yang inteligen.
2.      Design activity yaitu proses menemukan masalah, mengembangkan pemahaman, dan menganalisi kemungkinan pemecahan masalah serta tindaklanjutnya, jadi ada perencanaan pola kegiatan.
3.      Choise activity yaitu memilih salah satu tindakan yang terbaik dar sekian banyak alternative atau kemungkinanan pemecahan. Kegiatan-kegiatan pelaksanaan hasil keputusan itu sendiri biasanya dilaksanakan oleh orang lain.
Pembuatan keputusan adalah bagia dari kegiatan meneger. Kegiatan ini memberikan peranan yang penting bagi manajer melaksanakan fungsi perencanaan. Perencanaan menyangkut keputusan-keputusan sangat penting dan jangka panjang yang dapat dibuat manajer. Pembuatan keputusan (decision making) menggambarkan proses melalui mana serangkaian kegiatan dipilih sebagai penyelesaian suatu masalah tertentu.

C.     PROSES PEMBUATAN KEPUTUSAN KEPUTUSAN
Sebagaimana T. Hani Handoko (2003) mengungkapkan bahwa banyak meneger yang harus membuat suatu keputusan dengan metode-metode pembuatan keputusan informasi untuk memberikan pedoman bagi mereka.
Tidak ada pendekatan pembuatan keputusan yang dapat menjamin bahwa manajer akan selalu membuat keputusan yang benar. Tetapi bagaimanpun juga, para manager yang menggunakan suatu pendekatan yang rasional, intelektual, dan sistematik akan lebih berhasil disbanding para manajer yang menggunakan pendekatan informasi.
Proses pembuatan keputusan rasional hamper sama dengan proses perencanaan strategi yang mencakup identifikasi dan diagnosis masalah, pengumpulan dan analisis data yang relevan, pengembangan alternative-alternatif, penilaian berbagai alternative penyelesaian, pemilihan alternative terbaik, implementasi keputusan dan evaluasi terhadap hasil-hasil.
1.      Pemahaman dan perumusan masalah
Para manajer dapat mempermudah identifikasi masalah dengan beberapa cara, antara lain : pertama, manajer secar sistematis menguji hubungan-hubungan sebab-akibat, kedua, menajer mencaripenyimpangan-penyimpangan atau perubahan-perubahan dari “normal” manajer berkonsultasi dengan pihak-pihak lain yang mampu memberikan pandangan dan wawasan yang berbeda tentang masalah atu kesempatan.
2.      Pengumpulan dan analisis data yang relevan
Manajer pertama kali harus menetukan data-data apa yang akan dibutuhkan untukmembuat keputusan yang tepat, dan kemudian mendapatkan informasi.
3.      Pengembangan alternative-alternatif
Sebelum menager melakukan pengambilan keputusan, terlebih dahulu perlu dikembangkan beberapa alternatif yang dapat dilaksanakan dan harus dipertimbangkan konsekuensi yang akan terjadi dari masing-masing alternatif. Hal ini merupakan proses pencarian dimana lingkungan intern dan ekstern yang relevan dengan organisasi diperiksa untuk memberikan informasi yang dapat dikembangkan menjadi alternative yang akan dipilih. Pencarian tersebut dilaksanakan dalam batas waktu dan biaya tertentu, karena dengan hanya usaha besar tersebut dapat dikerahkan untuk mengembangkan alternatif.
4.      Evaluasi alternatif
Setelah dilakukan pengembangan alternative, maka alternative tersebut harus dievaluasi dan dibandingkan. Pada setiap situasi keputusan, sasaran dalam mengambil keputusan adalah mengambil alternative yang akan lebuh mnguntungkan dan yang paling kecil kerugiannya. Hal ini menunjukkan pentingnya tujuan dan sasaran Karena dalam memilih alternative, meneger sebagai pengambil keputusan harus dipedomani tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Hubungan antara alternative keluaran didasarkan pada tiga kondisi berikut :
a. kepastian, maneger sebagai pengambil keputusan memiliki pengetahuan yang lengkap mengenai kemungkinan keluaran dari setiap alternative.
b. ketidak pastian, manager sebagai pengambil keputusan sama sekal tidak mengetahui kemungkinan keluaran dari masing-masing alternative.
c. resiko, manager sebagai pengambil keputusan memiliki sedikit prakiraan mengenai kemungkinan keluaran masing-masing alternative.
Pengambilan keputusan dengan resiko mungkin merupakan situasi yang paling sering dijumpai. Dalam hal mengevaluasi, pada kondisi inilah para ahli statistika dan ahli penelitian telah memberikan kontribusi penting kepada teori keputusan.
5.      Seleksi alternative
Seleksi alternative dilakukan dengan maksud untuk memecahkan permesalahan sehingga mampu merealisasikan tujuan yang telah ditetapkan. Meskipun managemen sebagai pengambil keputusan memilih alternative dengan harapan dapat mencapai sasaran, tetapi pemilihan tersebut seharusnya tidak dipandang sebagai suatu aktivitasyang mandiri.
6.      Implementasi keputusan
Setiap keputusan memiliki karakteristik sedikit lebih dari suatu abstraksi, manakala keputusan tersebut tersebut tidak diimplementasikan. Pilihan harus dilaksanakan secar efektif untuk merealisasikan tujuan yang telah ditetapkan. Tidak mustahil apabila terjadi keputusn yang baik dapat nenjadi jelek karena dalam mengoperasikannya kurang baik. Implementasi keputusan merupakan aktivitas yang lebih penting dari pada aktivitas nyata memilih alternative.
7.      Evaluasi hasil keputusan
Implementasi hasil keputusan harus dimonitir terus-menerus. Manajer harus mengevaluasi apakah implementasi dilakukan dengan lancar dan keputusan memberikan hasil-hasil yang diinginkan. Pembuatan keputusan adalah suatu proses yang bersifat kontinu bagi manajer dan merupakan tantangan yang harus dihadapi.
D.    TIPE-TIPE PEMBUATAN KEPUTUSAN
1.      keputusan-keputusan yang diprogaram
              Keputusan-keputusan yang deprogram adalah keputusan yang dibuat menurut kebiasaan, aturan-aturan prosedur, keputusan yang rutin dan berulang-ulang. Setiap organisasi mempunyai kebijaksanaan tertulis atau tidak tertulis yang memudahkan pembuatan keeputusan dalam situasi yang berulang dengan membatasi dan menghilangkan alternative-alternatif.
2.      keputusan-keputusan yang tidak diprogram
              Keputusan-keputusan yang tidak deprogram adalah keputusan yang berkenaan dengan massalah-masalah khusus, khas atau tidak biasa.
3.       keputusan dengan kepasian, Resiko, dan Ketidakpastian
              Keputusan dengan kepasian, Resiko, dan Ketidakpastian yaitu para manajer membuatt keputusan-keputusan adalah bagi kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan dan tujuan yang akan dicapai di waktu yang akan dating. Situasi-situasi pembuatan keputusan ini menyangkut berbagai aspek yang tidak dapat diketahui dan sulit diperkirakan.
E.     BEBERAPA TEKNIK DALAM PEMBUATAN KEPUTUSAN
              Pembuatan keputusan para manajer dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa teknik dengan memperhatikan situasi pada saat dalam pengambilan keputusan yaitu :
a.       Situasi kepastian (certainly)
              Keputusan dalam situasi kepastian (certainly), keputusan dalam kondisi seperti ini perlu menentukan batas-batas tertentu dimana factor tunggal dapat menyebabkan sebuah perubahan (deterministic).
b.      Situasi resiko (risk)
              Keputusan dalam situasi resiko (risk), yaitu suatu keputusan yang menggambarkan bahwa setiap rangkaian kegiatan mempunyai sejumlah kemungkinan dan masing-masing probabilitasnya dapat diperhitungkan atau dapat diketahui. Kebanyakan para menejer dalam pemecahan masalah dengan menerapkan kemungkinan (probability) untuk beberapa alternative. Teknik ini biasanya menggunkan pohon keputusan (decision tree) untuk solusinya. Pembuatan keputusan dengan kondisi resiko ini disebut juga model stokastikmyaitu sesuatu yang belum tentu terjadi kepastiannya, untuk pencapaian stokastik sebenarnya lebih didominasi oleh usaha dan kerja keras manajer. Teknik yang dapat digunakan keputusan dalam situasi resiko adalah teknik keputusan inventori dan antrian.
c.       Situasi ketidak pastian (uncertainly)
              Keputusan dalam kondiis ini merupakan suatu keputusan yang menggambarkan bahwa setiap rangkaian kegiatan mempunyai sejumlah kemungkinan hasil dan masing-masing probalitasnya tidak dapat diketahui/ditentukan. Ketidak pastian merupakan suatu keadaan dimana manajer tidak dapat menentukan keputusan kerena belum pernah terjadi sebelumnya. Memang keputusan dengan kondisi seperti ini adalah situasi yang paling sulit untuk pengambilan keputusan, ketidakpastian relevan dengan apa yang ada dalam Game Theory. Dalam kondisi seperti ini perlu mengumpulkan informasi sebanyak mungkin untuk mendukung keputusan dalam rangka pemecahan suatu permasalahan.
d.      Situsi konflik (conflict)
              Keputusan dalam situasi konflik terkadang dalam pengambilan keputusan tidak selalu lancer. Banyak permasalahan yang perlu dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan. Apalagi bila keputusan yang diambil terdapat konflik atau dapat menyebabkan konflik.









BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
              Dari uraian diatas  dapat saya simpulkan, bahwa proses adalah tahapan-tahapan yang dilalui dalam melakukan suatu hal tanpa adanya proses yang dilalui maka tidak akan ada perrubahan.
              Keputusan suatu reaksi terhadap beberapa solusi alternatif yang dilakukan secara sadar dengan cara menganalisa kemungkinan - kemungkinan dari alternatif tersebut bersama konsekuensinya
              Pembuatan keputusan adalah suatu proses yang bersifat kontinu bagi manajer dan merupakan tantangan yang harus dihadapi
              Dalam pembuatan keputusan ada bebera proses yang dilalui, diantaranya : Pemahaman dan perumusan masalah, Pengumpulan dan analisis data yang relevan, Pengembangan alternative-alternatif, Evaluasi alternative, Seleksi alternative, Implementasi keputusan, dan Evaluasi hasil keputusan
              Tipe-tipe pembuatab keputusan terdiri dari : keputusan-keputusan yang diprogaram, keputusan-keputusan yang tidak deprogram, keputusan dengan kepasian, Resiko, dan Ketidakpastian
              Beberapa teknik dalam pembuatan keputusan anatara lain : Situasi kepastian (certainly), Situasi resiko (risk), Situasi ketidak pastian (uncertainly), Situsi konflik (conflict).
              Pembuatan keputusan dalam sebuah organisasi itu sangat dibutuhkan. Karena tanpa pembuatan keputusan yang baik maka suatu organisasi tidak akan berjalan sesuai dengan yang direncanakan.




DAFTAR PUSTAKA
Effendi, Usman. 2015. Asas Managemen. Jakarta : Rajawali Pers.
Siswanto. 2005. Pengantar Managemen. Jakarta : Jl. Sawo Raya No:18.


Tugas 01 Pertekom : Pengertian teknologi komunikasi

Pengertian teknologi komunikasi
1.      Menurut Rogers (1986) teknologi komunikasi adalah peralatan-peralatan keras, struktur organisasi, dan nilai sosial dengan mana individu mengumpulkan, memproses terjadinya pertukaran informasi dengan individu lain.
2.      Menurut New Comb, teknologi komunikasi adalah transmisi informasi yang terdiri dari rangsangan diskriminatif dari sumber kepada penerima.
3.      Menurut Bernard Barelson & Garry A. Steiner, teknologi komunikasi adalah proses transmisi informasi, gagasan, emosi, keterampilan dan sebagainya dengan menggunakan simbol-simbol, kata-kata, gambar, grafis dan sebagainya.
4.      Menurut Colin Cherry, teknologi komunikasi adalah proses dimana pihak-pihak saling menggunakan informasi dengan untuk mencapai tujuan bersama dan komunikasi merupakan kaitan hubungan yang ditimbulkan oleh penerus rangsangan dan pembangkitan balasannya.

5.      Menurut Carl l. Hovland, teknologi komunikasi adalah suatu proses yang memungkinkan seseorang menyampaikan rangsangan (biasanya dengan menggunakan lambing verbal) untuk mengubah perilaku orang lain.

Tuesday, January 31, 2017

The Journalistic Different In Old Era, New Era And Reformation

THE JOURNALISTIC DIFFERENT IN OLD ERA, NEW ERA AND REFORMATION





COMPILED BY

          NAME                             : SANTY BERLIANTY
          STUDENT NUMBER    : 2018815


SCHOOL OF SOCIAL SCIENCES AND POLITICS PAHLAWAN 12 SUNGAILIAT-BANGKA
ACADEMIC OF YEAR 2016/1017


CHAPTER I
INTRODUCTION
1.      Definition title
            Journalism is the activity set up, searching, collecting, processing, presenting, and spread
 the word through the media periodically to the widest possible audience with as quickly as possible.
            According to Roland E. Wolseley Journalism is the collection, interpretation, processing, 
and spread of information Sales manager, Opinion observers, Entertainment Sales Operations 
manager systematic and can be trusted to review Published hearts can be newspapers, magazines, 
broadcast  in Television.
               According to F. Fraser Bond Journalism ambraces all the forms in which and trough 
which the news and moment on the news reach the public.
            Old era is a term for the administration of President Sukarno in Indonesia. Old Order took place from 1945 to 1968. During this time, Indonesia used interchangeably liberal economic system and a command economy.
New Order is an order of the whole life of the people, the nation and the country put back the implementation of Pancasila and the 1945 Constitution purely and consistently. In other words, the New Order is an order that has the attitude and determination to serve the interests of the people and national level by guided by the spirit and the spirit of Pancasila and the 1945 Constitution.
Reform is a process of re-establishment of an order of life (old) is replaced by the new order. The goal is to better direction by looking at the future purposes. It also emphasizes the return to the original form to stop the irregularities and practices is wrong with doing a thorough overhaul of a system of life, both in terms of political, economic, legal, social and educational fields.
2.      Reason to choose a title the journalistic different in old era, new era and reformation.
The reason I chose this title because it wants to know the differences and the development of journalistic in the old order, the new order and the reform period.






CHAPTER II
DISCOURSE ANALYSIS
The characterictic of journalistic
Bill Kovach 9 basic elements of the journalism practiced by the press should not be implemented. 9 The basic elements are:
1. The key obligation of journalism is on the search for truth.
2. The primary loyalty is to the citizen journalism.
3. The main essence of journalism is a discipline of verification.
4. Journalists must maintain the independency of the object reportage.
5. Journalists should make themselves as independent monitor of power.
6. Journalists should provide a forum for the public to critique each other and find a  compromise.
7. Journalists should strive to make it important to be interesting and relevant.
8. Journalists should make the news comprehensive and proportional.
9. Journalists must be allowed to listen to the conscience of its personnel.
            Examples of the dictatorship of the government towards the press is the event June 21, 1994. At that time some mass media such as Tempo, second, and editor of its publication license revoked or in other words, were banned after they issued an investigative report about the abuses committed by state officials. However, even though the government has silenced the media in such a way, but for media unyielding resistance to the government. One of them is the Tempo. New Order government has always felt threatened by the presence of Tempo. This is reasonable because the unyielding attitude of the media embedded reporters - journalists. It is inevitable that Tempo became the most important media in the new order.
            Surely, in the new order there is the official sanctioning body of the press in Indonesia, 
namely the Press Council. In accordance Press Law No. 40 of 1999, the press council is an 
independent body which was formed as part of efforts to develop press freedom and improve the 
lives of the national press. Based on the mandate of the Law, the press council has particularly 7 
functions:
1.      Protect press freedom from interference by other parties, can governments and communities.
2.      Conduct a study to the development of the press keidupan 
3.      Establish and oversee the implementation of the code of ethics of journalism.
4.      Giving consideration and the insistence on the settlement of public complaints on cases 
related to press reports.
5.      Develop a communication between the press, the public and the government.
6.      Facilitate press organizations in drafting regulations in the field of the press and 
improving the quality of the journalistic profession.
7.      Collect press company.
            But it is unfortunate that the press council of the new order does not perform its function 
effectively. Ironically, the press council does not protect fellow journalists. This is evident when 
banning media event in 1994. Many members of the press council to oppose the banning, but the 
council approved the press forced the government measures. No one could do a press council but 
to obey the instructions of the government. Rejecting synonymous with the fight against the 
government. Press council can be inferred the existence of the new order of formality only.
 
Journalistic old era
 
Press on the old order is a propaganda tool of the political parties. Some political parties have their own media, at the time known as the press release participants. Freedom of the press at this time based on the constitution Indonesia States and  Provisional Constitution in article 19 of the Constitution RIS mentioned everyone has a right to freedom of opinion and expression. This article back then included in the Provisional Constitution of 1950 reflects despite the ups and downs of political life, but freedom of the press in the opinion should remain in the constitution.
Act - an act of repression of press freedom by the authorities Old Order increases coincide with increased tension in the government. Action - action suppression of press freedom declined as tensions in government declined. Especially after printing - printing is taken over by the government and the journalists were required to pledge political support of government, so it is little government action emphasis to the press.
Restrictive measures against press freedom during 1959 in the same direction with years sebelumnys. With as much as 73 times the number of actions. During the 1960s occurred three times the revocation issue, whereas in 1961 reached 13 times. Details suppression measures or actions antipers for 14 years from May 1952 until December 1965, according to records Edward C. Smith reached 561 action.
            The government stressed that the main function of the press is to support the objectives of 
the revolution and all the newspapers into official government newspaper spokesman. "It is based 
on the views expressed Smith President Sukarno when addressing a rally in front of the 19th 
anniversary of PWI, which was published by the New York Times, among others:" .... I firmly 
stated today that in a revolution there can be no freedom of the press , Just press that supported the 
revolution that allowed life ", he said. "The press is hostile to the revolution had to be removed".
 
Journalistic in the new order
In the new order, the press to say there is no function for citizens. The press is seen only as a puppet ruler. There is no freedom of speech the government promised at the beginning of the beginning of the power of the new order. The existence of the press is closely monitored by the government under the auspices of the lighting department. This is done to anticipate things - bad things in the new order reached the ears of the community. The press can not do anything other than abide by the rules set by the government.
Aspirations of the people for the government is not distributed at all. This is because political communication that occurs only top - down. This means that the press only as a communicator of the government to the people. The press can not perform its function as a communicator of the people to the government. In addition, news that is channeled to the public regarding the government should be the news - news that upholds the government's success. Reported just something good. When a reckless media published the news - there may be bias about the government, can be sure the media fortunes are at stake.
And history also shows us that the PWI (Indonesian Journalist Association) did not bring significant changes in the pattern of repression is it. That there would be a media PWI also become a puppet of the government of the New Order regime in the country at that time. Policies - policies issued by the government's new order strongly support the existence of the press. One example is the policy (SIUPP) the license for the Press Publishing, which is not very pro-pers. Press experiencing difficulty when required to accomplish their functions - functions that are naturally attached to it, in particular their function for society.
Journalistic in reform era
            When the new order collapsed, the press like to lose control. Flow freedom opened wide - the 
width spontaneously. A wave of press freedom created a large scale, not slowly with due process. 
A policy that is monumental because it is considered as a milestone in the commencement of press 
freedom in Indonesia, namely the issuance Permenpen No. 01 / per / Menpen / 1998 on 
Provisions - Provisions this license. In this Permenpen, revoke this license and the banning of the 
press abolished. There are five rules, either in the form of regulation as well as the Decree of the 
Minister, all of which hamper the space for the press, revoked. The climax was the issuance of Law 
No. 40 of 1999 on the Press. There is a clause in the law that states repeal all laws that existed before 
the press. Since then, no government policy aggravating the press. As a result, the demand for the 
issuance of permits increased.
Press the reform period is always associated with democracy. Which democracy means freedom of speech and expression. One indicator of democracy is the creation of independent journalism. Despite the fact that this time, the press sometimes still used by the government to preserve power. Press the reform period are free to write anything their criticism of the government. No silencing, let alone banning. If the government was offended by what is conveyed by the press, the way to fight not with memberedel the press, but by utilizing the press itself as an effective communication tool between people and government. In other words, the press reform period established itself as an intermediary for the people and the government in order to avoid differences of perception.
            Press the reform period has more or less found himself. Independent press a gency. During the 
reform period, political communication occurred between the public and the government not only 
communication top - down, but also bottom - up. Press into a means of community to channel their 
aspirations, both in the form of demands and support. The press has also become a means of 
disseminating government policies - policies that have been taken. Releases into the container to 
determine whether the government's policies - policies that will take people agreed or not. If a policy 
has been adopted and applied, the press can take its role as a policy controller. In essence, the press 
reform period always perform functions at each process of the political system. During this period, 
9 of the basic elements and function - the function of the press is quite accomplished.
However, freedom of the press that is created during the reform does not mean do not cause any trouble. Freedom of the press is sometimes missed boundary reform period. There is an imbalance between the desires of the community with the interests of the press. The press tends to show something that smelled commercial and think only of the company's profits. The news is presented sometimes not objective. Not only that, the press also sometimes violated its own code of ethics. Norms and values ​​in society are ignored. In search of the press often negate compensation decency news. The press is no longer appreciate the privatization of the news source. For example, the press should focus only on issues - issues relating to the public interest, such as government policy, but the press will add to the personal affairs of news sources. It was very violating norms.
Public concern over press freedom, had appeared in the insurgency in the form of physical violence. This is partly characterized by Jawa Pos daily attacks in Surabaya by Banser supporters of Abdurrahman Wahid (natural Emilianus, 2005: 128). In essence, the press be forgotten that freedom is still there must be a limit. In the press reform more present themselves as the party close to power and capital. And it must be anticipated by society as a watchdog over the behavior of the press in Indonesia.

CHAPTER III
CLOSING
1.       CONCLUSION
Releases during the old order is a propaganda tool of the political parties. Some political parties have their own media, at the time known as the press release participants.
In the new order of movement of the press is restricted and only as a puppet government to preserve its interests.
            While the on-time of reform, freedom of the press is guaranteed. The space for the press to be 
very broad. The press can perform the function of top - down and bottom - up, although sometimes 
still used as a tool of the authorities and owners of capital. Freedom of the press reform period is also 
not without problems, many problems arising from the freedom of the press itself.
 
2.       SOLUTION
 
               For the government certainly must know where strategic position of the press at this time, 
and thus can be an indicator of policy making in the future regarding the press.
               For the press should be able to position itself as one of the guards the course of democracy 
in Indonesia because of the strategic role.












BIBLIOGRAPHY
               Asep Syamsul M. Applied Journalism: Journalism and Authorship Guidelines, 
Bandung, Batic Press. 2005. 
               Kustadi Suhandang. Introduction to Journalism: Regarding the organization, products, 
and Code of Conduct. Publisher Nuance. Bandung.  2004.
               Riswandha Imawan.1998. Dissecting the Politics of the New Order. Yogyakarta: 
Student Library. 1998.
               www.google”Definition and Understanding Reforms by the Experts | Educated”, 
December 16, 2016, 19:30.
               www.google”Old Order | Cita Denti Artika”, December 16, 2016, 19:26 hour.
               www.google” Understanding / definitions Journalism - Unix Lifes”, December 16, 
2016, 19:24 hour.

               www.google” Understanding the New Order government. ~ A journey of life”, 
December 16, 2016, 19:27 hour.

Organisasi Profesi Humas

A.     PERHUMAS Pada tanggal 15 Desember 1972 para praktisi humas di Indonesia mendirikan Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (PERHU...